This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Wednesday, September 26, 2012

Refleksi Hari Tani Nasional


Tanggal 24 September 1960 UU Pokok Agraria dibuat. Itulah babak baru tentang pentingnya peran dan posisi petani. Dan tanggal itu kini diperingati sebagai Hari Tani Nasioanal. Namun, tidak sedikit petani Indonesia yang masih menjerit. Ini sungguh ironi, terutama ketika peringatan Hari Tani Nasional sudah ke-52.

Peringatan Hari Tani Nasional 24 September lalu, diwarnai berbagai aksi unjuk rasa. Di Jakarta massa gabungan organisasi petani berunjuk rasa di depan kantor Badan Pertanahan Nasional. Tak mau ketinggalan para petani di daerah juga ikut berdemo, seperti di Riau, Padang, Cirebon, Semarang, Surabaya, dan Mataram.

Pertanyaannya, apa yang penting dari peringatan Hari Tani Nasional? Pertama, semangatnya bahwa pertanian itu penting. Berbicara pertanian adalah berbicara soal pangan. Bung Karno bilang, “pangan adalah soal hidup dan mati.” Coba bayangkan jika para petani mogok menanam padi satu musim saja. Petanilah yang memberi makan dunia.

Pangan menjadi isu utama di abad ini selain energi dan perubahan iklim. Populasi manusia di planet bumi kini mencapai 7 milyar jiwa. Dan diprediksi meningkat menjadi 9,5 milyar pada 2050. Penduduk Indonesia saja sudah 237 juta jiwa dan jika tidak dikendalikan bakal merangkak naik menjadi 475 juta jiwa pada 2054. Maka konsekwensinya, mau tak mau negara harus menyediakan pangan untuk penduduknya.

Kedua, Hari Tani Nasional harus menjadi refleksi untuk evaluasi. Apa saja yang sudah kita capai?  Sejatinya masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Seperti masalah kerawanan pangan, perubahan iklim global, kekeringan, dan impor bahan pangan. Tak ketinggalan adalah swasembada pangan berkelanjutan dan diversifikasi pangan. Terkait dengan Hari Tani Nasional adalah melakukan reforma agraria.

Pertanyaannya kemudian, apakah para petani sudah sejahtera? Winarno Thohir, mengatakan, secara umum kebijakan pemerintah belum bisa mengangkat nasib petani, apalagi nelayan. Menurut ketua KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan) itu, petani Indonesia belum menerima perlindungan yang layak, terlebih terhadap serbuan produk impor. Kemudian dari segi anggaran dan permodalan, pemerintah dinilai masih belum memberikan harapan yang sesuai untuk petani.

Maka menjadi wajar jika Hari Tani Nasional selalu ditanggapi dengan aksi. Protes di sana-sini. Ini karena kebijakan pemerintah yang masih setengah hati pro petani. Padahal presiden kita sekarang lulusan IPB. Lho kok? Bagaimana sarjana-sarjana pertaniannya?

Selamat Hari Tani Nasional ke-52.
Petani sejahtera, bangsa berdaya !

Sunday, August 5, 2012

Melongok Green Canyon


Dinding canyon berwarna kuning tanah, meling-meling alias glossy. Hujan abadi turun dari langit-langit canyon. Ada yang bilang airnya berasal dari akar-akar pohon. Di bawahnya mengalir sungai berwarna hijau tosdka, pelan menenangkan pikiran. Inilah lansekap batu kapur atau karst paling memesona yang pernah aku sambangi, 19 Juli lalu.

Orang Sunda menyebutnya Cukang Taneuh. Yang artinya jembatan tanah. Karena menjadi tempat menyeberang penduduk ke ladang mereka. Orang asing mengenalnya Green Canyon, karena barangkali mirip Grand Canyon yang ada di Amerika.

Green Canyon ditemukan pertama kali oleh turis asal Austria dan orang Bandung. Kemudian dipopulerkan oleh seorang Prancis pada tahun 1993. Kini Green Canyon menjadi objek wisata andalan kabupaten Ciamis.

Sudah sejak lama aku ingin ke Green Canyon. Setelah puas menjelajah Pangandaran kami pun langsung meluncur ke lokasi. Berada di desa Kertayasa, kecamatan Cijulang, Ciamis, Jawa Barat. Jaraknya sekira 31 km dari Pangandaran.
Kebetulan saat kami sampai di Green Canyon, pengunjungnya tidak terlalu banyak. Namun masih terlihat beberapa turis asing, entah mereka dari mana asalnya. Harga tiket masuk ke Green Canyon hanya Rp. 75.000. Dan kita bisa menyusuri Green Canyon pakai perahu motor. Jika satu perahu berisi lima penumpang, maka tiap orang cukup merogoh kocek Rp. 15.000.

Berangkat dari Dermaga Ciseureuh menggunakan perahu motor. Perahu kami berisi lima penumpang. Aku dan dua temanku. Dan dua orang yang baru saja kami kenal. Ditambah dua orang pengemudi perahu. Sayang suara mesin dieselnya berisik banget. Ah,  seandainya kami bisa mengayuh sendiri pasti lebih seru.

Saat hendak mencapai mulut Green Canyon, lebar sungai semakin sempit. Dan perahu kami harus mengalah. Berhenti sejenak saat ada perahu lain datang dari arah yang berlawanan. Namun semakin ke dalam pemandangannya semakin memesona.

Perlu sekitar 20 menit untuk sampai ke mulut Green Canyon. Setiba di mulut Green Canyon, hujan turun menyambut kami. Ternyata airnya berasal dari langit-langit canyon. Di sinilah awal mula petualangan yang sesungguhnya. Body rafting.

Untuk melakukan body rafting kita harus pakai guide. Dengan biaya sekitar Rp. 850.000, kita akan diajak berenang atau menyusuri di pinggir sungai. Waktunya sekira 5 jam. Namun jangan datang pas musim hujan ya, karena airnya akan berubah menjadi cokelat dan arusnya deras.

Nggak ke Green Canyon kalau nggak melakukan body rafting”. Kata seorang teman.
Huft! sayangnya kami nggak bisa melakukan body rafting. Padahal seru banget pasti rasanya. Kapan-kapan kalau kesana lagi kudu mencobanya.




Friday, August 3, 2012

Pesona Pantai Sawarna



Nama pantai Sawarna barangkali tak banyak terdengar oleh kita. Padahal pantai yang terletak di Lebak, Banten ini mempunyai pesona yang sangat menarik. Sawarna menyajikan pantai yang landai dan pasir putih. Beberapa gua di sekitar pantai dan pohon nyiur yang melambai menambah daya tarik pantai ini.
Saya bersama lima orang teman, Imam, Gilang, Koku, Ravi, dan Suleyman menyusuri pantai selatan Jawa Barat selama tiga hari, Januari 2012. Mulai dari pantai Citepus di Sukabumi sampai pantai Bayah di Lebak, Banten. Pukul 11:30 kami berangkat dari terminal Baranangsiang Bogor menggunakan bis jurusan Bogor-Pelabuhan Ratu, sekitar dua jam kemudian kami tiba di terminal Pelabuhan Ratu, Sukabumi.

Pelabuhan Ratu, menjadi titik awal kami untuk menyusuri pantai selatan. Tidak lupa kami mampir di pasar dan tempat pelelangan ikan untuk melengkapi bekal perjalanan. Di tempat pelelangan ikan ini banyak dijumpai hasil tangkapan laut mulai dari aneka jenis ikan, udang, dan kerang. Namun kita harus jeli memilihnya agar mendapatkan hasil yang masih segar.
Selepas Ashar kami mulai menyusuri pantai Citepus, di sebelah barat Pelabuhan Ratu. Suasananya cukup ramai karena letaknya bersisian dengan jalan raya. Di bibir pantai dibuat undak-undakan dari beton untuk menahan ombak. Di sepanjang pantai juga banyak warung yang menjual makanan dan minuman. Sayangnya fasilitas umum di pantai ini masih belum terawat dengan baik.
Sebelum gelap perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri pantai Citepus. Pantai yang kami susuri tidak semulus yang kami kira. Tebing tinggi, genangan air luas dan sungai yang lebar menghambat langkah kaki, membuat kami harus berputar ke jalan raya mencari jembatan.
Perjalanan dilanjutkan menggunakan angkutan umum menuju pantai Karang Hawu. Berbeda dengan pantai Citepus, disini pantainya lebih lebar, jarak antara pantai dan jalan raya agak berjauhan. Hari pertama kami bermalam di pantai ini. Ombak besar dan angin kencang menemani makan malam kami dengan lauk ikan bakar.  
Keesokan harinya kami tidak sabar untuk menjelajahi pantai Karang Hawu ini. Agak ke barat di pantai ini terdapat penambangan pasir dan batu kerikil. Para penambang pasir biasanya membuat lubang diantara batu-batuan kemudian mengumpulkan pasir ke tepi pantai. Di seberang sungai kecil kami menemukan kampung nelayan. Disini terdapat dermaga, tempat perahu nelayan berangkat dan berlabuh, juga ada tempat pelelangan ikan, tempat pengolahan hasil laut, dan penginapan. Kampung nelayan ini tidak besar tetapi aktivitas di sini cukup sibuk. Beberapa perahu motor terlihat masuk dan keluar dermaga. Sedangkan nelayan yang tidak melaut sibuk memperbaiki perahu dan jala mereka.
Tujuan berikutnya, pantai Bayah. Rute perjalanan kali ini tidak menyusuri pantai melainkan memutar. Kami menelusuri jalan setapak di sisi bukit menghindari tebing terjal yang menghambat perjalanan. Dari atas bukit kita dapat menikmati pemandangan berupa laut lepas.
Setelah menikmati hamparan Samudera Hindia dari atas bukit, perjalanan dilanjutkan menuju Bayah, Lebak, Banten. Perjalanan dengan mobil jenis Elf  ke Bayah terasa lebih lama karena mobil ini beberapa kali harus mendaki jalan yang menanjak dan berliku. Jelang setengah perjalanan tampak laut lepas berwarna hijau kebirua-biruan dari kaca mobil. Jalan menanjak dan berliku berakhir di jalan datar di pinggiran pantai. Siang itu kami sampai di Bayah.
Setelah mengisi energi dan istirahat sejenak di masjid, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke arah timur menuju pantai Karang Taraje. Pantai ini mempunyai pesonanya sendiri, yaitu pantai pasir putih dengan batu karang yang tersebar di sepanjang pantai. Hari sudah gelap, akhirnya kami memutuskan bermalam di pantai ini.
Di hari terakhir, kami berjalan kaki di antara hujan gerimis meninggalkan pantai Karang Taraje menuju pantai Sawarna. Pada musim penghujan seperti ini kami harus rela berteman dengan hujan dalam perjalanan. Benar saja, baru setengah perjalanan angin kencang dan hujan lebat turun memaksa kami untuk berteduh. Beruntung kami diijinkan berteduh di sebuah rumah di pinggiran kebun kelapa. Penghuninya suami-istri separuh baya yang sangat ramah.
Di perjalanan berikutnya hati kami mulai senang, saat hujan mulai reda. Kami yang tadinya memakai jas hujan akhirnya bisa melepasnya sambil berdoa semoga hujan tidak turun lagi. Sepanjang perjalanan di kiri kanan jalan tampak vegetasi hutan alami. Sekali, kami pernah menjumpai sekelompok monyet yang sedang bergelantungan di pohon. Kemudian vegetasi hutan alami berubah menjadi hutan produksi berupa pohon mahoni dan jati.
Letih dan lelah setelah trekking selama setengah hari hilang seketika memandang laut lepas Samudera Hindia di pantai Sawarna. Pasir putih dan irama debur ombak yang bersahutan memberikan kepuasan dan kebahagiaan tersendiri. Tidak lupa kami mengabadikan momen-momen spesial di pantai ini. Di sekitar pantai ini juga terdapat beberapa gua, ada gua Langir, gua Lalai, dan gua Harta Karun dimana menurut cerita penduduk merupakan gua peninggalan zaman Jepang. Meski mempesona namun pantai ini masih sepi dari para wisatawan.
Menjelang petang setelah puas menjelajahi pantai, saatnya menikmati pemandangan yang lain di Tanjung Layar. Lokasinya tidak jauh dari pantai Sawarna. Namun kita harus menyeberang jembatan gantung untuk mencapai lokasi. Untuk masuk setiap pengunjung cukup membayar Rp. 3.500 saja. Tanjung Layar jaraknya sekitar 1 km dari jembatan gantung. Setelah melewati rumah-rumah penduduk dan perkebunan kelapa, kita akan di suguhi pemandangan berupa dua buah tebing yang menjorok ke laut dan pantai pasir putih dengan kulit-kulit kerang yang bertebaran di pasir.

Sebenarnya untuk sampai ke kawasan pantai Sawarna dapat menggunakan mobil jenis Elf dari teminal Pelabuhan Ratu, Sukabumi, namun hanya sekali pulang-pergi dalam sehari. Di kawasan ini terdapat kampung wisata, namun belum dikelola dengan optimal. Di sini tersedia home stay bagi pengunjung yang ingin menginap. Mulai dari saung-saung di pinggir pantai, rumah penduduk, sampai home stay sekelas hotel melati.
Sebelum beduk Maghrib berbunyi, kembalilah kami ke masjid, tempat kami menginap di hari terakhir. Tak terasa sudah tiga hari kami menyusuri pantai. Esoknya kami sudah harus menanti mobil jenis Elf yang akan mengantar kami ke terminal Pelabuhan Ratu, kembali ke Bogor.

Monday, July 30, 2012

Madrasah Ramadhan


“Nggak terasa ya, bulan Rajab telah lewat. Dan sekarang di ujung bulan Sya’ban. Ah senangnya sebentar lagi kita akan menjumpai bulan Ramadhan.” 

Bulan Ramadhan merupakan madrasah khusus yang dibuka setiap tahun. Tujuannya adalah tarbiyah amaliyah bagi umat Islam. Kita diwajibkan berpuasa di siang hari dan anjuran qiyamu ramadhan aka shalat tarawih dan witir di malam hari.

Di madrasah Ramadhan ini kita belajar sabar, berkurban, mendahulukan orang lain, kesungguhan niat, kuat kemauan, keluhuran semangat, menundukkan pandangan, keluasan dada, menjaga diri, amanah, jujur, dan ikhlas.

Menurut Dadang Hawari, guru besar FK UI, di dalam puasa mengandung enam hikmah. Pertama puasa adalah wujud rasa syukur kepada Allah. Kedua melatih diri dalam menahan hawa nafsu syahwat, baik syahwat perut maupun syahwat seksual. Ketiga, puasa mampu menahan diri dari berbuat maksiat. Keempat, dapat merasakan penderitaan orang-orang miskin. Kelima, melatih kesabaran, kejujuran, dan kedisiplinan. Keenam, puasa itu menyehatkan. Jadi kalau disederhanakan esensi puasa adalah self control.  

Dari sekian hikmah ini, orang yang berpuasa mempunyai kesempatan yang besar untuk memperoleh nafahaat (hembusan-hembusan rahmat) dari Allah SWT.

Oleh karena itu, dalam madrasah ini kita dianjurkan menghidupkan sunnah-sunnah Ramadhan, seperti menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. Disamping itu kita mengkhatamkan al-Quran setidaknya sekali di bulan Ramadhan. Dan memuliakan momen turunnya al-Quran (nuzulul Qur’an) dari Lauh Mahfudz ke langit bumi.

Infak dan sedekah juga perlu digalakkan. Kemudian i’tikaf di sepuluh hari terakhir. Dan memperbanyak aktivitas taklim serta memperbanyak perpaduan doa syahadat, istighfar, memohon surga dan dijauhkan dari neraka.

Ramadhan juga menjadi momentum mencari Lailatul Qodar di sepuluh hari terakhir. Di malam-malam ganjil. Paling tidak kita rajin jamaah Isya dan Shubuh serta qiyamullail.

Dan semoga ketika kita keluar dari madrasah Ramadhan ini, kita mendapatkan rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka.


Marhaban ya Ramadhan
Marhaban ya Ramadhan
Marhaban ya Ramadhan
Berikanlah kami kemurahan dengan pengampunan

(Doa Salafushalih Hadramaut menyambut Ramadhan)

Oleh-oleh Ramadhan dari Asma Nadia


            “Karena kita tidak tahu kapan maut akan menjemput, maka menulislah. Karena menulis membuat kita abadi.” Kata Asma Nadia ketika seorang peserta bertanya kenapa menulis? Inilah yang memotivasi Asma Nadia menulis, selain untuk membuat bangga orang tua. Usia.

            Aku tak akan melupakan senjakala yang inspiring itu, Rabu (25/7). Launching novel teranyar Asma Nadia “Cinta di Ujung Sajadah.” Acara yang di gelar dalam rangka Republika Ramadhan Fair di kompleks Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta. Meski sebagian besar tips tentang menulis novel sudah tahu. Namun kali ini aku mendapat ilmu yang baru. Apalagi bisa berjumpa langsung dengan sang idola. Subhanalloh…

            Menurut Asma Nadia, sebuah novel yang bagus harus mempunya opening yang menarik. Kenapa? Karena, biasanya calon pembeli buku akan membaca lebih dulu pada bagian awal. Paragraf pembuka harus membuat calon pembeli kesengsem untuk terus membaca halaman berikutnya. Hingga akhirnya membeli buku kita.

            Tips lain kata Asma Nadia adalah konflik dalam cerita harus kuat, lalu buatlah penokohan yang meninggalkan jejak di hati pembaca. Tokoh cerita kita harus khas. Dan terakhir, ending yang menarik. Yang tidak membosankan dan tidak mudah ditebak oleh pembaca.

            Asma Nadia juga memberikan bocoran yang berharga tentang dunia penerbitan dan toko buku. Misalnya, tidak semua penerbit mempunyai anggaran pemasaran untuk semua buku yang diterbitkan. Paling dua atau tiga buku. So, kita harus membantu penerbit untuk menjual buku kita. Bagaimana caranya? Dua minggu sebelum buku kita terbit, pasang cover buku kita di Facebook atau kirimkan resensi buku kita ke media massa. Jangan lupa garap profil Facebook atau Twitter kita. Jangan tampilkan foto profil yang alay aka lebay. Dan update status hanya yang bermanfaat saja.
           
            “ Toko buku itu kejam,” kata Asma Nadia. “Dua minggu buku kita tidak bergerak maka akan ditarik ke gudang.”  .

            Nah loh. Untung masih bisa online. Itulah mengapa kita harus menggarap dunia maya. Jadi kalau terpaksa buku kita ditarik ke gudang, masih bisa dijual secara online. Begitulah petuah Asma Nadia.

            Puh! Sayang sekali waktunya terbatas. Jauh-jauh datang dari Bogor tentu tidak hanya ingin mendengar Asma Nadia cuap-cuap tentang menulis saja kan.

            “Yeee, jangan kecewa” kata Asma Nadia mengakhiri acara. “Bagi yang belum puas dan ingin bertanya lagi, kalian bisa nulis di dinding Asma atau mention ke Twitter.”
Loh kok Asma Nadia tahu yah, seolah mempunyai telepati. Begitulah hebatnya seorang penulis yang mampu mengadakan pertemuan pikiran dengan pembacanya.

            Selesai acara Asma Nadia dirubung sama penggemarnya seperti laron kepada lampu. Ada yang minta tanda tangan, minta foto bareng. Duh, senangnya jadi penulis terkenal.


Tuesday, May 22, 2012

Salah Kaprah Sejarah Harkitnas


Setiap tanggal 20 Mei bangsa Indonesia memperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasioal. Tanggal 20 Mei dianggap penting karena pada 20 Mei 1908 organisasi Budi Utomo yang dibidani dr. Soetomo dilahirkan. Dan ini dianggap mengawali usaha yang historis menuju dan menjadi merdeka. Menurut Syafiq A. Mughni, dalam tulisannya yang berjudul “Munculnya Kesadaran Nasionalisme Umat Islam,” fakta sejarah yang otentik juga menunjukkan peran penting dari tokoh-tokoh muslim. Misalnya saja dari Sarekat Islam (1912) seperti H.O.S. Tjokroaminoto, Agus Salim dan Abdul Moeis.

Dalam tulisannya, Syafiq A. Mughni menilai Sarekat Islam mewakili tidak saja munculnya kesadaran nasionalisme di kalangan kaum muslim, namun juga telah mengilhami nasionalisme rakyat Indonesia di berbagai wilayah Indonesia.

Jika melihat catatan sejarah yang otentik maka setidaknya ada tiga fakta sejarah, kata Syafiq A. Mughni yakni:

Pertama, Sarekat Islam tumbuh dan tersebar di luar pulau Jawa. Keanggotaan Sarekat Islam mencakup banyak figur dari berbagai latar belakang etnis, budaya dan tradisi. Berbeda dengan Budi Utomo dan beberapa organisasi atau pergerakan lain. Mereka cenderung didominasi oleh kalangan bangsawan Jawa dan dengan sangat kental menunjukkan watak kejawaan atau orientasi kesukuan lainnya, dengan corak “nasionalisme Jawa” atau “nasionalisme Hindia Belanda.”

Kedua, perbedaan watak nasionalisme antara Sarekat Islam dan Budi Utomo dalam menyikapi kemungkinan agresi dari luar terhadap wilayah Hindia Belanda. Tjokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam, lebih menekankan pentingnya komitmen Belanda untuk memberikan hak-hak politik secara lebih luas kepada rakyat Indonesia. Tjokroaminoto menegaskan bahwa mempertahankan tanah air memang merupakan suatu tindakan yag baik, tetapi dia sekaligus menuntut perlunya pemerintah Belanda menempatkan  bangsa Indonesia sejajar dengan bangsa lain, seraya mengakhiri penindasan dan memperlakukan rakyat Indonesia dengan baik. Di lain pihak, Budi Utomo yang diwakili Djiwosewoyo menyatakan pentingnya kemungkinan terlibatnya Indonesia dalam Perang Dunia, dan kewajiban rakyat dalam membantu Belanda secara aktif dengan memberikan bantuan militer. Pernyataan ini menunjukkan sikapnya yang nrimo terhadap pemerintah kolonial.

Ketiga, sebagai gerakan yang memberikan perhatian kepada kegiatan ekonomi, filsafat ekonomi Sarekat Islam yang sebagian dinilai agak berorientasi ‘sosialistik’ merefleksikan perlawanan terhadap kapitalisme dan dominasi ekonomi oleh kekuatan pedagang Cina. Hal ini karena para pendiri gerakan ini kebanyakan adalah para pedagang yang memiliki kepentingan untuk melakukan perlawanan terhadap kebijakan dagang yang tidak adil, yang lebih menguntungkan pedagang Cina.

Pemimpin Sarekat Islam, Tjokroaminoto melihat Islam sebagai faktor sosial yang mengikat dan simbol nasional. Dalam pertemuan Sarekat Islam pada 1914, dia menyatakan bahwa gerakannya menggunakan agama sebagai tali pengikat, dan mengingatkan peserta kongres bahwa tanpa agama tidak akan ada kerja sama dan kekuatan. Karena setiap muslim adalah saudara bagi sesamanya. Yang merupakan hamba Allah. Jadi, Islam disadari atau tidak diidentifikasi sebagai simbol nasional.

Melalui momentum Hari Kebangkitan Nasional ini mari kita luruskan distorsi sejarah itu. Dan eksistensi umat Islam tidak bisa dicabut begitu saja dari sejarah dan kemerdekaan bangsa Indonesia. Tentunya dengan tidak melupakan dan tetap menghargai keberadaan umat lain. Karena Islam rahmatan lil ‘alamin.
.

Buah Lokal Masih Terjungkal


Jika kita pergi ke mall atau bahkan ke pasar-pasar tradisional maka dengan mudah akan kita temukan buah-buahan impor. Sedap dipandang, menggiurkan dan menggugah selera. Ah sayang, di negeri kaya ini, buah cantik nan menggoda itu kebanyakan buah impor. Lalu dimanakah buah lokal Indonesia? 

Buah impor
Buah impor kerap dipilih oleh konsumen dengan alasan, tampilannya menarik, pasokannya terjamin, dan ada standarisasi mutu. Durian montong asal Thailand, jeruk asal Cina, apel, pear, dan kawan-kawannya sudah menjadi langganan konsumen Indonesia. 

Buah impor kini tidak saja memasuki ranah konsumsi, tetapi juga telah menyerbu ke dalam hal yang lebih substansial, seperti ritual keagamaan. Di Bali, kini sebagian warga lebih suka menggunakan buah impor sebagai bahan sesajen dalam upacara. Menurut I Ketut Sumadi, dosen Institut Hindu Darma, jika mempersembahkan buah impor, warga merasa sesajinya lebih “berkelas” karena buah impor biasanya lebih mahal ketimbang buah lokal. (Kompas, 16 Oktober 2011) 

Di luar lingkup rumah tangga, buah-buahan juga menjadi bahan baku industry makanan dan minuman. Untuk minuman ringan sari buah yang diproduksi perusahaan besar, hampir semua bahan bakunya impor.
Buah-buahan impor yang menjadi bahan baku industry ini umumnya dihasilkan oleh perkebunan besar, sentuhan teknologi diaplikasikan dari penanaman hingga pascapanen sehingga kontinuitas pasokan dan standarisasi rasa serta bentuk buah bisa didapat. (Kompas, 16 Oktober 2011)

Buah lokal
Potensi plasma nutfah buah-buahan Indonesia sangat besar. Dari tujuh spesies buah tropika utama (pisang, jeruk, durian, nangka, langsat, lengkeng, mangga, rambutan, dan manggis), Indonesia mempunyai lebih dari 6000 sumber plasma nutfah. Seharusnya, dengan kekayaan plasma nutfah tersebut Indonesia mempunyai varietas/klon buah-buahan yang unggul. 

Potensi alam Indonesia juga sangat mendukung. Indonesia mempunyai iklim, lahan, dan altitude yang memungkinkan musim panen dapat dilakukan berbeda-beda tiap daerah. Sementara potensi lahannya masih cukup besar sekitar 9,7 juta hektar.

Menurut jajak pendapat Kompas, masyarakat sebenarnya masih menggemari buah lokal. Dari 446 responden, 74.9 persen responden lebih memilih buah lokal dari pada buah impor. (Kompas, 16 OKtober 2011)

Sungguh ironi jika buah-buahan Indonesia-jangankan dikenal di dunia internasional-menjadi tuan rumah di negeri sendiri saja belum. Padahal, buah-buahan lokal ini bisa “menang” dalam urusan rasa. Nilai gizinya juga lebih baik karena tidak melalui penyimpanan lama atau pengawetan yang menurunkan kualitas.
Selain lebih segar, beberapa buah tropis juga terbukti lebih unggul kandungan vitaminnya dibandingkan buah subtropics. Kandungan vitamin C dan vitamin A pada buah mangga lokal, misalnya, lebih tinggi 10 kali lipat dibandingkan apel impor.

Semua keadaan ini sangat terkait dengan mutu buah-buahan Indonesia. Tidak ada jaminan mutu dan belum diterapkannya manajemen mutu dalam produksi buah-buahan menyebabkan potensi buah kita menjadi terbengkalai.

Rendahnya mutu buah lokal ini terkait sangat erat dengan system produksi buah-buahan, system panen, dan penanganan pasca panen. Sistem produksi buah-buahan di Indonesia umumnya menggunakan system produksi pekarangan dan agroforestry. Dimana system jaminan mutu sulit diterapkan. Oleh karena itu, penerapan jaminan mutu buah-buahan perlu dikembangkan agar dapat diterapkan oleh para petani buah. Dan manajemen kebun buah yang dapat menjamin penerapan manajemen mutu perlu dipelajari.

Masalah lain menurut Roedhy Poerwanto, Guru Besar Hortikultura IPB, adalah system perdagangan di dalam negeri belum berorientasi pada mutu. Buah-buahan lokal diperdagangkan tanpa seleksi mutu di tingkat produsen. Dalam pengiriman, buah bermutu baik dicampur dengan bauh bermutu jelek, daun, ranting, bahkan buah busuk. Akibatnya, 40-60 persen buah rusak dan harus dibuang.

Untuk menjadikan buah lokal menjadi tuan di negeri sendiri dapat terwujud apabila kita membangun supply-chain management (SCM) yang tangguh. SCM merupakan strategi bisnis yang mengintegrasikan secara vertikal perusahaan-perusahaan dalam supply chain (SC) untuk menigkatkan efisiensi dan prestasi keseluruhan anggota SC agar dapat memenuhi tuntutan konsumen sehingga menjadi satu kesatuan kegiatan bisnis yang kompetitif. 

Mengapa SCM menjadi penting? Karena, di Indonesia kini tumbuh pasar-pasar modern (hypermarket, supermarket, minimarket), adanya persaingan dengan produk impor, adanya tuntutan konsumen terhadap standar keamanan pangan dan mutu produk, perubahan gaya hidup dan cara pandang terhadap pangan.

Contoh penerapan SCM yang berhasil adalah di Taiwan. Petani-petani buah di sana membentuk asosiasi atau kelompok tani. Mereka melakukan seleksi sendiri. Buah dikemas sesuai standar, baru ditawarkan ke pasar grosir. Para tengkulak dipersilahkan membeli di pasar grosir dengan cara lelang dengan ketentuan yang dibuat asosiasi. Di Indonesia juga ada contohnya, yakni di Lumajang, Jawa Timur. Mereka adalah petani pisang mas Kirana yang membentuk Kelompok Tani Sumber Jambe.

Saturday, May 12, 2012

Menggapai Puncak Ciremai


          Saya bersama tiga orang kawan, Imam, Latif, dan Fahmi harus mengurus izin dulu sebelum mendaki. Kami harus mempersiapkan fotokopi tanda pengenal dan mengisi formulir pendakian di Pos PPGC (Pengelola Pendakian Gunung Ciremai)-Linggarsana. Linggarsana dekat dengan desa Linggarjati. Di Linggarjati terdapat Museum Linggarjati, tempat berlangsungnya perundingan Linggarjati antara Belanda dan Indonesia pada tahun 1946. 

          Menuju lokasi ini dari Jakarta, Jumat 28 Oktober 2011. Menggunakan kereta ekonomi jurusan Purwakarta. Berangkat menjelang senja. Cos kita ketinggalan kereta Tegal Arum. Sampai di Stasiun Purwakarta sekira bakda Isya. Perjalanan dilanjutkan menggunakan angkot menuju pertigaan sebelum masuk tol Cikampek. Emm apa yah namanya? Aku lupa. Pokoknya yang sering masuk televisi saat mudik hari raya. Lalu naik bis jurusan terminal Cirebon.

Thursday, May 10, 2012

Di Puncak Gunung Gede


Bersama 10 teman saya mendaki Gunung Gede setelah ujian akhir semester berakhir, Juni 2011. Tujuannya adalah ke puncak Gunung Gede. Gunung Gede terletak diantara kabupaten Bogor, Sukabumi, dan Cianjur bersama Gunung Pangrango merupakan kawasan taman nasional, yang dikenal dengan nama Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGP).
 Kawasan ini mempunyai dua puncak gunung, yaitu puncak gunung Gede (2.958 mdpl) dan puncak gunung Pangrango (3.019 mdpl). Menurut Harley, penulis buku Mountain Climbing  for Every Body,  kawasan ini menjadi tempat tumbuhnya 200 spesies anggrek, berbagai jenis burung, dan mamalia langka seperti macan tutul, owa jawa, dan surili atau monyet jawa.

Opiniku


KERAWANAN PANGAN DAN TEKNOLOGI REKAYASA GENETIKA
By: Sagarmatha

            Presiden Soekarno, ketika pidato peletakan batu pertama gedung Fakultas Pertanian UI (sekarang IPB),  mengatakan bahwa masalah persedian pangan merupakan hidup-matinya bangsa. Itu dahulu, 60 tahun lalu. Sekarang, dengan jumlah penduduk di atas 237 juta jiwa, masalah kerawanan pangan di Indonesia menjadi perkara yang sangat serius.
Isu kerawanan pangan memang bukan pepesan kosong. Beberapa fenomena menjelaskan hal itu. Menurut data PBB pada Oktober 2011 jumlah penduduk dunia mencapai tujuh milyar jiwa. Jumlah itu diprediksi meningkat 35% pada 2050 sehingga menjadi 9,5 milyar. Indonesia sendiri kini sudah 237 juta jiwa dan jika tidak dikendalikan akan meningkat menjadi 475 juta jiwa pada 2054.