This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sunday, August 5, 2012

Melongok Green Canyon


Dinding canyon berwarna kuning tanah, meling-meling alias glossy. Hujan abadi turun dari langit-langit canyon. Ada yang bilang airnya berasal dari akar-akar pohon. Di bawahnya mengalir sungai berwarna hijau tosdka, pelan menenangkan pikiran. Inilah lansekap batu kapur atau karst paling memesona yang pernah aku sambangi, 19 Juli lalu.

Orang Sunda menyebutnya Cukang Taneuh. Yang artinya jembatan tanah. Karena menjadi tempat menyeberang penduduk ke ladang mereka. Orang asing mengenalnya Green Canyon, karena barangkali mirip Grand Canyon yang ada di Amerika.

Green Canyon ditemukan pertama kali oleh turis asal Austria dan orang Bandung. Kemudian dipopulerkan oleh seorang Prancis pada tahun 1993. Kini Green Canyon menjadi objek wisata andalan kabupaten Ciamis.

Sudah sejak lama aku ingin ke Green Canyon. Setelah puas menjelajah Pangandaran kami pun langsung meluncur ke lokasi. Berada di desa Kertayasa, kecamatan Cijulang, Ciamis, Jawa Barat. Jaraknya sekira 31 km dari Pangandaran.
Kebetulan saat kami sampai di Green Canyon, pengunjungnya tidak terlalu banyak. Namun masih terlihat beberapa turis asing, entah mereka dari mana asalnya. Harga tiket masuk ke Green Canyon hanya Rp. 75.000. Dan kita bisa menyusuri Green Canyon pakai perahu motor. Jika satu perahu berisi lima penumpang, maka tiap orang cukup merogoh kocek Rp. 15.000.

Berangkat dari Dermaga Ciseureuh menggunakan perahu motor. Perahu kami berisi lima penumpang. Aku dan dua temanku. Dan dua orang yang baru saja kami kenal. Ditambah dua orang pengemudi perahu. Sayang suara mesin dieselnya berisik banget. Ah,  seandainya kami bisa mengayuh sendiri pasti lebih seru.

Saat hendak mencapai mulut Green Canyon, lebar sungai semakin sempit. Dan perahu kami harus mengalah. Berhenti sejenak saat ada perahu lain datang dari arah yang berlawanan. Namun semakin ke dalam pemandangannya semakin memesona.

Perlu sekitar 20 menit untuk sampai ke mulut Green Canyon. Setiba di mulut Green Canyon, hujan turun menyambut kami. Ternyata airnya berasal dari langit-langit canyon. Di sinilah awal mula petualangan yang sesungguhnya. Body rafting.

Untuk melakukan body rafting kita harus pakai guide. Dengan biaya sekitar Rp. 850.000, kita akan diajak berenang atau menyusuri di pinggir sungai. Waktunya sekira 5 jam. Namun jangan datang pas musim hujan ya, karena airnya akan berubah menjadi cokelat dan arusnya deras.

Nggak ke Green Canyon kalau nggak melakukan body rafting”. Kata seorang teman.
Huft! sayangnya kami nggak bisa melakukan body rafting. Padahal seru banget pasti rasanya. Kapan-kapan kalau kesana lagi kudu mencobanya.




Friday, August 3, 2012

Pesona Pantai Sawarna



Nama pantai Sawarna barangkali tak banyak terdengar oleh kita. Padahal pantai yang terletak di Lebak, Banten ini mempunyai pesona yang sangat menarik. Sawarna menyajikan pantai yang landai dan pasir putih. Beberapa gua di sekitar pantai dan pohon nyiur yang melambai menambah daya tarik pantai ini.
Saya bersama lima orang teman, Imam, Gilang, Koku, Ravi, dan Suleyman menyusuri pantai selatan Jawa Barat selama tiga hari, Januari 2012. Mulai dari pantai Citepus di Sukabumi sampai pantai Bayah di Lebak, Banten. Pukul 11:30 kami berangkat dari terminal Baranangsiang Bogor menggunakan bis jurusan Bogor-Pelabuhan Ratu, sekitar dua jam kemudian kami tiba di terminal Pelabuhan Ratu, Sukabumi.

Pelabuhan Ratu, menjadi titik awal kami untuk menyusuri pantai selatan. Tidak lupa kami mampir di pasar dan tempat pelelangan ikan untuk melengkapi bekal perjalanan. Di tempat pelelangan ikan ini banyak dijumpai hasil tangkapan laut mulai dari aneka jenis ikan, udang, dan kerang. Namun kita harus jeli memilihnya agar mendapatkan hasil yang masih segar.
Selepas Ashar kami mulai menyusuri pantai Citepus, di sebelah barat Pelabuhan Ratu. Suasananya cukup ramai karena letaknya bersisian dengan jalan raya. Di bibir pantai dibuat undak-undakan dari beton untuk menahan ombak. Di sepanjang pantai juga banyak warung yang menjual makanan dan minuman. Sayangnya fasilitas umum di pantai ini masih belum terawat dengan baik.
Sebelum gelap perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri pantai Citepus. Pantai yang kami susuri tidak semulus yang kami kira. Tebing tinggi, genangan air luas dan sungai yang lebar menghambat langkah kaki, membuat kami harus berputar ke jalan raya mencari jembatan.
Perjalanan dilanjutkan menggunakan angkutan umum menuju pantai Karang Hawu. Berbeda dengan pantai Citepus, disini pantainya lebih lebar, jarak antara pantai dan jalan raya agak berjauhan. Hari pertama kami bermalam di pantai ini. Ombak besar dan angin kencang menemani makan malam kami dengan lauk ikan bakar.  
Keesokan harinya kami tidak sabar untuk menjelajahi pantai Karang Hawu ini. Agak ke barat di pantai ini terdapat penambangan pasir dan batu kerikil. Para penambang pasir biasanya membuat lubang diantara batu-batuan kemudian mengumpulkan pasir ke tepi pantai. Di seberang sungai kecil kami menemukan kampung nelayan. Disini terdapat dermaga, tempat perahu nelayan berangkat dan berlabuh, juga ada tempat pelelangan ikan, tempat pengolahan hasil laut, dan penginapan. Kampung nelayan ini tidak besar tetapi aktivitas di sini cukup sibuk. Beberapa perahu motor terlihat masuk dan keluar dermaga. Sedangkan nelayan yang tidak melaut sibuk memperbaiki perahu dan jala mereka.
Tujuan berikutnya, pantai Bayah. Rute perjalanan kali ini tidak menyusuri pantai melainkan memutar. Kami menelusuri jalan setapak di sisi bukit menghindari tebing terjal yang menghambat perjalanan. Dari atas bukit kita dapat menikmati pemandangan berupa laut lepas.
Setelah menikmati hamparan Samudera Hindia dari atas bukit, perjalanan dilanjutkan menuju Bayah, Lebak, Banten. Perjalanan dengan mobil jenis Elf  ke Bayah terasa lebih lama karena mobil ini beberapa kali harus mendaki jalan yang menanjak dan berliku. Jelang setengah perjalanan tampak laut lepas berwarna hijau kebirua-biruan dari kaca mobil. Jalan menanjak dan berliku berakhir di jalan datar di pinggiran pantai. Siang itu kami sampai di Bayah.
Setelah mengisi energi dan istirahat sejenak di masjid, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke arah timur menuju pantai Karang Taraje. Pantai ini mempunyai pesonanya sendiri, yaitu pantai pasir putih dengan batu karang yang tersebar di sepanjang pantai. Hari sudah gelap, akhirnya kami memutuskan bermalam di pantai ini.
Di hari terakhir, kami berjalan kaki di antara hujan gerimis meninggalkan pantai Karang Taraje menuju pantai Sawarna. Pada musim penghujan seperti ini kami harus rela berteman dengan hujan dalam perjalanan. Benar saja, baru setengah perjalanan angin kencang dan hujan lebat turun memaksa kami untuk berteduh. Beruntung kami diijinkan berteduh di sebuah rumah di pinggiran kebun kelapa. Penghuninya suami-istri separuh baya yang sangat ramah.
Di perjalanan berikutnya hati kami mulai senang, saat hujan mulai reda. Kami yang tadinya memakai jas hujan akhirnya bisa melepasnya sambil berdoa semoga hujan tidak turun lagi. Sepanjang perjalanan di kiri kanan jalan tampak vegetasi hutan alami. Sekali, kami pernah menjumpai sekelompok monyet yang sedang bergelantungan di pohon. Kemudian vegetasi hutan alami berubah menjadi hutan produksi berupa pohon mahoni dan jati.
Letih dan lelah setelah trekking selama setengah hari hilang seketika memandang laut lepas Samudera Hindia di pantai Sawarna. Pasir putih dan irama debur ombak yang bersahutan memberikan kepuasan dan kebahagiaan tersendiri. Tidak lupa kami mengabadikan momen-momen spesial di pantai ini. Di sekitar pantai ini juga terdapat beberapa gua, ada gua Langir, gua Lalai, dan gua Harta Karun dimana menurut cerita penduduk merupakan gua peninggalan zaman Jepang. Meski mempesona namun pantai ini masih sepi dari para wisatawan.
Menjelang petang setelah puas menjelajahi pantai, saatnya menikmati pemandangan yang lain di Tanjung Layar. Lokasinya tidak jauh dari pantai Sawarna. Namun kita harus menyeberang jembatan gantung untuk mencapai lokasi. Untuk masuk setiap pengunjung cukup membayar Rp. 3.500 saja. Tanjung Layar jaraknya sekitar 1 km dari jembatan gantung. Setelah melewati rumah-rumah penduduk dan perkebunan kelapa, kita akan di suguhi pemandangan berupa dua buah tebing yang menjorok ke laut dan pantai pasir putih dengan kulit-kulit kerang yang bertebaran di pasir.

Sebenarnya untuk sampai ke kawasan pantai Sawarna dapat menggunakan mobil jenis Elf dari teminal Pelabuhan Ratu, Sukabumi, namun hanya sekali pulang-pergi dalam sehari. Di kawasan ini terdapat kampung wisata, namun belum dikelola dengan optimal. Di sini tersedia home stay bagi pengunjung yang ingin menginap. Mulai dari saung-saung di pinggir pantai, rumah penduduk, sampai home stay sekelas hotel melati.
Sebelum beduk Maghrib berbunyi, kembalilah kami ke masjid, tempat kami menginap di hari terakhir. Tak terasa sudah tiga hari kami menyusuri pantai. Esoknya kami sudah harus menanti mobil jenis Elf yang akan mengantar kami ke terminal Pelabuhan Ratu, kembali ke Bogor.